Antipsychotics dan Autisme: Seefektif itukah?
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit. Quisque faucibus ex sapien vitae pellentesque sem placerat. In id cursus mi pretium tellus duis convallis. Tempus leo eu aenean sed diam urna tempor. Pulvinar vivamus fringilla lacus nec metus bibendum egestas. Iaculis massa nisl malesuada lacinia integer nunc posuere. Ut hendrerit semper vel class aptent taciti sociosqu. Ad litora torquent per conubia nostra inceptos himenaeos.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit. Quisque faucibus ex sapien vitae pellentesque sem placerat. In id cursus mi pretium tellus duis convallis. Tempus leo eu aenean sed diam urna tempor. Pulvinar vivamus fringilla lacus nec metus bibendum egestas. Iaculis massa nisl malesuada lacinia integer nunc posuere. Ut hendrerit semper vel class aptent taciti sociosqu. Ad litora torquent per conubia nostra inceptos himenaeos.
Antipsikotik. Sebuah obat yang dasarnya untuk mengendalikan zat kimia di dalam otak seperti dopamine dan serotonin (singkatnya). Tentu obat ini biasanya untuk menanggulangi dan mengurangi gejala halusinasi maupun delusi yang ada di dalam penyintas skizofrenia dan bipolar episode mania.
Seiring waktu, pada usia kanak-kanak, beberapa dari mereka yang memiliki BPJS, maupun tindakan umum yang berbayar, ketika anak maupun individu didiagnosa autisme ringan hingga membutuhkan bantuan orang, 60% akan diberikan obat untuk mengontrol emosi. Untuk mengontrol emosi tersebut. biasanya psikiatri maupun dokter terkait dengan kesehatan jiwa akan memberikan beberapa obat. Salah satunya ada antipsikotik. Tergantung dari dokter yang memeriksa, bisa saja ada bermacam-macam obat yang akan diberikan sesuai dengan dosis kecil hingga menengah.
Antipsikotik biasanya ada berbagai macam-macam. Di Indonesia, terdapat berbagai obat yang bisa diresepkan dengan bahan aktif langsung (tanpa ada merk dagang). Untuk pengklasifikasian obat antipsikotik, ada 3 generasi yang beredar. Generasi pertama disebut sebagai first generation, begitupun juga setelahnya hingga generasi ketiga. Yang paling aman dari semua generasi tersebut, psikiatri biasanya akan memberikan antipsikotik generasi kedua karena berbagai pertimbangan, seperti efek samping yang bisa ditahan dan tidak serta merta mendapat efek samping yang parah.
Risperidone dan olanzapine adalah obat yang bisa digunakan untuk rujukan pertama dalam menegakkan obat antipsikotik. Sebut saja dari obat risperidone dahulu.
Risperidone adalah obat antipsikotik generasi kedua yang setiap dosisnya ditakar dengan skala kecil, mulai dari 0.5 mg hingga dosis yang tertinggi 4 mg - 5 mg. Pengalaman saya menggunakan obat ini adalah harus dirasakan dari dosis kecil yang tidak berefek di kepala lalu nantinya di evaluasi dosis obat bisa dinaikkan sedikit demi sedikit. Risperidone ini tentu ada efek samping yang harus diperhatikan, seperti kenaikan maupun penurunan berarti badan (kalau di aku, bisa naik hingga 3 kg dalam sebulan), kejang fokal, dan selainnya bisa dicari sendiri. Risperidone ini akan aman buat yang overthinking dengan kesehatan ginjal dan tidak ada sekresi yang mengarah ke ginjal sekalipun.
Olanzapine adalah obat antipsikotik generasi kedua yang dosisnya tergolong sedang, mulai dari 5 mg hingga 15 mg. Obat ini sangat efektif pada dosis pertama di 5 mg dan berefek di kepala layaknya penenang. Olanzapine ada efek yang besar di dalam diri saya, yaitu berat badan yang signifikan sebanyak 5 kg di waktu 1 bulan. Maka dari itu, jika mau efektif namun mengorbankan berat badan dan komitmen untuk berolahraga tiap hari, olanzapine sangat recommended buat diresepkan dan dipertimbangkan bersama dengan psikiatri.
Jika kedua obat tersebut sudah tidak mulai cocok maupun sudah tidak tahan untuk menjadi seorang yang obesitas, maka satu obat antipsikotik akan diresepkan, yaitu aripiprazole. Aripiprazole adalah obat antipsikotik generasi ketiga yang dosisnya tergolong sedang, mulai dari 5 mg hingga 15 mg. Obat ini akan efektif perlahan sekitar 2 pekan berturut-turut untuk mencapai keefektifannya. Masalah dari obat ini jika pertama minum adalah insomnia, mual hingga muntah, sedasi yang minim, dan lain-lainnya. Kelebihan dari aripiprazole adalah tidak menimbulkan kenaikan berat badan yang signifikan (tidak seperti olanzapine maupun risperidone).
Lah terus apa obat lain jika tidak efektif? Stay tuned buat post ini karena bisa saja ditambah.
