Krisis Identitas Individu Berkebutuhan Khusus

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit. Pretium tellus duis convallis tempus leo eu aenean. Iaculis massa nisl malesuada lacinia integer nunc posuere. Conubia nostra inceptos himenaeos orci varius natoque penatibus. Nulla molestie mattis scelerisque maximus eget fermentum odio. Blandit quis suspendisse aliquet nisi sodales consequat magna. Ligula congue sollicitudin erat viverra ac tincidunt nam. Velit aliquam imperdiet mollis nullam volutpat porttitor ullamcorper. Dui felis venenatis ultrices proin libero feugiat tristique. Cubilia curae hac habitasse platea dictumst lorem ipsum.

Krisis inklusivitas individu berkebutuhan khusus: Sebuah pengungkapan yang tidak etis.

Individu berkebutuhan khusus saat ini dipandang sebagai seseorang yang belum bisa diklasifikasikan sebagai individu yang mandiri dan berdaya. Rata-rata beberapa kasus yang ada, individu berkebutuhan khusus seringkali disangkal sebagai latar belakang keluarga yang tidak suportif maupun keluarga yang suportif penuh.

Mirisnya lagi, individu ini mendapatkan penolakan yang keberlanjutan yang nantinya mempengaruhi masa depan mereka. Maka dari itulah, individu berkebutuhan khusus perlu ada sorotan bantuan yang krusial bagi sesama relasi yang lain; demi tersalurnya sebuah pengakuan diri individu berkebutuhan khusus yang inklusif.

Rata-rata yayasan yang berfokus pada individu berkebutuhan khusus justru melanggengkan eksklusi terhadap individu-individu berkebutuhan khusus dengan latar belakang yang berantakan. Narasi-narasi yang ada selama ini masih berbasis pemikiran donatur dan berfokus pada keluarga.

Sistem penerimaan individu berkebutuhan khusus hari ini masih selektif. Mulai dari acara-acara yang masih mensyaratkan kehadiran keluarga lengkap, pendaftaran sekolah inklusi dan khusus, lembaga khusus setara perguruan tinggi  yang masih menanyakan keberadaan wali mereka, dan syarat syarat lainnya yang menunjukkan keluarga sebagai prioritas.

Rata-rata kisah sukses individu berkebutuhan khusus yang beredar hari ini masih belum sepenuhnya representatif terhadap individu-individu berkebutuhan khusus yang memiliki latar belakang yang jauh dari keluarga ideal. Sebagai contoh, ada individu berkebutuhan khusus yang baru lulus perguruan tinggi dengan predikat cumlaude dari orang tua yang bekerja di rongsokan atau mempunyai keluarga yang tak utuh, malah akan tenggelam dengan teman satu nasib yang memiliki IPK yang biasa-biasa saja namun mempunyai keluarga suportif.

Dari contoh kasus diatas adalah gambaran realita kelam yang seringkali dibungkus rapi oleh media, lembaga, dan masyarakat terhadap individu berkebutuhan khusus yang sudah semestinya diakui oleh masyarakat, namun masih ada stigma yang masih melekat dan seringkali tidak sadar, yaitu individu berkebutuhan khusus diasosiasikan sebagai individu yang hanya bisa mengandalkan keluarga dalam pengasuhan.

Mengapa harus diubah pada kenyataannya? Karena fakta di lapangan, praktik inklusivitas hari ini belum sepenuhnya inklusi dengan latar belakang narasi-narasi yang berpusat pada keluarga; pada akhirnya justru membuat masyarakat dan negara lepas tangan untuk mendukung individu berkebutuhan khusus yang tidak memiliki dukungan dari keluarga dan individu berkebutuhan khusus dengan latar belakang keluarga yang lebih kompleks. Jika masyarakat mengakui masalah-masalah tersebut hanya terjadi pada individu reguler, tidak menutup kemungkinan individu yang lain akan terlibat didalamnya. Seringkali, masalah-masalah pada individu berkebutuhan khusus direduksi secara sistematis menjadi dua kategori: keluarga yang tidak suportif dan keluarga yang suportif penuh. Kalau dari pihak keluarga saja tidak mau mendukung individu berkebutuhan khusus karena masalah-masalah di atas (bukan karena menolak perbedaan fisik/kemampuan anggota tubuh/perkembangan atau ketiganya), masyarakat, lembaga, dan negara seharusnya turun tangan mendukung individu berkebutuhan khusus yang secara latar belakang keluarga rentan mengalami krisis identitas.

Masih ada narasi tentang karakter individu berkebutuhan khusus yang beredar selama ini sudah tidak relevan lagi, salah satunya yaitu pernyataan retorika "ketulusan yang sepenuh hati". Jika narasi tersebut terus dipertahankan, individu berkebutuhan khusus akan kesulitan menghadapi dunia yang semakin tidak aman. Maka dari itu, narasi "ketulusan sepenuh hati" perlu direvisi, karena akan bisa memudarkan batas antara orang lain yang belum tentu tulus dengan individu berkebutuhan khusus yang seringkali memiliki perlindungan diri yang lemah.

Sebagai penggantinya, "Ketulusan dengan kewaspadaan" adalah narasi yang tepat untuk dunia saat ini. Kewaspadaan di sini bukan berarti curiga, melainkan untuk berhati-hati dalam berinteraksi. Karena ketulusan dengan kewaspadaan justru akan membuat individu berkebutuhan khusus belajar berinteraksi sekaligus memperkuat batasan terhadap orang yang semena-mena dengan individu berkebutuhan khusus.

Penulis Asli: Mutia
Proofreading: Muis Desta