Disabilitas bukanlah bahan candaan.


Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit quisque faucibus ex sapien vitae pellentesque sem placerat in id cursus mi pretium tellus duis convallis tempus leo eu aenean sed diam urna tempor pulvinar vivamus fringilla lacus nec metus bibendum egestas iaculis massa nisl malesuada lacinia integer nunc posuere ut hendrerit semper vel class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra inceptos himenaeos orci varius natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus donec rhoncus eros lobortis nulla molestie mattis scelerisque maximus eget fermentum odio phasellus non purus est efficitur laoreet mauris pharetra vestibulum fusce dictum risus.

Banyak konten media sosial, seminar, webinar, atau pertemuan tentang orangtua anak-anak berkebutuhan khusus, ahli yang menangani individu berkebutuhan khusus, bahkan siapapun yang memiliki keseharian yang familiar dengan individu berkebutuhan menyebutkan bahwa kondisi kebutuhan khusus mereka/anak mereka tidak layak untuk dijadikan bercandaan. Mereka takut anak/bahkan mereka sendiri dijadikan bahan bercandaan oleh orang-orang yang tak punya empati, tapi ada saja dari mereka yang diam-diam menjadikan kondisi anak/individu berkebutuhan khusus lain sebagai candaan.

Ini tidak lucu. Sedih ketika individu berkebutuhan khusus dijadikan bahan bercandaan, tetapi di kalangan mereka sendiri saja tanpa sadar menjadikan kondisi anak/individu berkebutuhan khusus lain sebagai bahan bercanda. Pola inkonsistensi tindakan masih saja terjadi, bahkan secara diam-diam tumbuh subur di kalangan orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus bahkan individu berkebutuhan khusus dewasa itu sendiri. Bayangkan, hari ini seorang anak penyandang autis kecewa karena kondisinya dijadikan bahan bercanda oleh teman sebaya, besoknya orangtua dari si anak bertemu dengan orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa menjadikan anak lain dengan diagnosa yang lebih berat sebagai candaan. Betapa tak konsistennya, ketika mereka tak terima anak mereka dijadikan bercandaan tetapi di sisi lain mereka juga ikut ikutan menjadikan anak dengan nasib yang sama namun dengan diagnosa yang lebih berat sebagai bahan bercanda. Ini adalah rantai tak terlihat yang tanpa sadar dimiliki oleh sebagian orangtua bahkan individu berkebutuhan khusus itu sendiri. Rantai tak terlihat ini seharusnya diputus dengan cara yang positif seperti berusaha untuk konsisten menjaga untuk tidak menjadikan kondisi orang dengan nasib yang sama sebagai bahan bercandaan. Kalau anak/individu berkebutuhan khusus dijadikan bahan bercandaan, orangtua bahkan orang yang dekat dengan mereka seharusnya tidak melanjutkan "rantai" itu ke orang lain dengan kondisi serupa. Kalau ada teman sebaya/orang lain yang menjadikan anak/individu berkebutuhan khusus yang mengatakan "ih kayak anak autis" dan semacamnya, orangtua anak/individu berkebutuhan khusus jangan meneruskan ke orangtua anak/sesama individu berkebutuhan khusus yang lebih berat kondisinya dengan kata-kata seperti "masih mending aku/anakku, kamu/anakmu mah ga bisa apa-apa, ngomong aja lama banget!" dan semacamnya.

Bagaimana pola ini bisa terjadi? Masyarakat luas yang tidak punya empati menjadikan individu berkebutuhan khusus sebagai bahan olok-olokan dan bahan bercandaan, dan orangtua dari individu berkebutuhan khusus yang mendengar hal tersebut sangat terluka. Kemudian, tanpa sadar, orangtua tersebut melampiaskan luka tersebut kepada orangtua lain yang mempunyai anak yang sama-sama berkebutuhan khusus dengan kondisi yang lebih berat. Ini adalah siklus yang terus berulang dan bisa berakibat fatal jika terus dinormalisasikan. Maka dari itu, masyarakat harus berhenti menjadikan anak/individu berkebutuhan khusus sebagai bahan bercandaan agar orangtua dari anak/individu berkebutuhan khusus tidak meneruskan rantai itu ke sesama orangtua/individu berkebutuhan khusus lainnya dengan kondisi yang lebih berat. Ini menjadi pelajaran penting bagi organisasi yang menaungi maupun siapapun yang berurusan dengan anak/individu berkebutuhan khusus agar jangan hanya melawan stigma dari luar, tetapi juga jangan menciptakan stigma di dalam. Tidak hanya itu, orangtua dari anak/individu berkebutuhan khusus harus mawas diri untuk menghentikan rantai hierarki ejekan dengan cara yang positif seperti memberi dukungan kepada orangtua dari anak/individu berkebutuhan khusus yang kondisinya lebih berat. Orangtua mungkin sedang terluka, tetapi jangan sampai diteruskan ke orangtua lain. Walaupun tidak semuanya, tetapi ada saja dari mereka yang menyerap stigma dari masyarakat luas dengan meneruskannya, dan ini tanda bahaya bagi orangtua dari anak/individu berkebutuhan khusus.

Kata-kata seperti "Masih mending anakku/aku, anakmu/kamu mah...," itu sama saja dengan sebutan "orang aneh/gila" ke anak/individu berkebutuhan khusus. Terlihat berbeda, tapi maksudnya sama: bercanda.  Untuk menghentikan rantai "bercanda" ini, harus mengubah kata-kata tersebut dengan ucapan semangat, doa-doa yang baik, dan kata-kata positif lainnya agar tidak menjadi blind spot bagi orangtua dan anak/individu berkebutuhan khusus.