Mitos dan Fakta Autisme

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit. Pretium tellus duis convallis tempus leo eu aenean. Iaculis massa nisl malesuada lacinia integer nunc posuere. Conubia nostra inceptos himenaeos orci varius natoque penatibus. Nulla molestie mattis scelerisque maximus eget fermentum odio. Blandit quis suspendisse aliquet nisi sodales consequat magna. Ligula congue sollicitudin erat viverra ac tincidunt nam. Velit aliquam imperdiet mollis nullam volutpat porttitor ullamcorper. Dui felis venenatis ultrices proin libero feugiat tristique. Cubilia curae hac habitasse platea dictumst lorem ipsum.

Definisi Autisme + Autisme bukanlah kekurangan.

Autisme adalah sebuah cara berpikir yang unik dibanding orang normal. Frasa umum dari autisme ini masuk kedalam payung neurodivergent. Tidak menutup kemungkinan bahwa penegakkan diagnosa autisme ini akan semakin modern dan lebih mudah untuk menjadi muhasabah diri dan tidak mengejar akan diagnosa resmi dari pihak terkait (jika pengidap autisme dewasa di Indonesia).

Sejarah autisme ini lahir dari Eugen Bleuler terhadap kata autism, penegakkan diagnosis oleh Leo Kanner, lalu Hans Asperger, terakhir Lorna Wing dengan triad of autistic impairments hingga menjadi klasifikasi di WHO sebanyak 3 kali (ICD-9 hingga ICD-11) dan di DSM sebanyak 3 kali (DSM-3 hingga DSM-5).

Autisme bukanlah kekurangan, tapi justru malah sebuah kelebihan yang tak kasat mata lho!

Mitos #1 tidak bisa bekerja maupun mendapat upah -> bisa selagi punya potensi

Rata-rata bagi autisme dewasa, mencari pekerjaan di kacamata pengidap autisme itu sebanding dengan disabilitas kebanyakan. Namun faktanya, individu dengan autisme malah condong dicari jika ditelisik sesuai dengan minat dan bakat terdalamnya. Dukungan relasi dan potensi juga krusial dalam menyukseskan langkah pekerjaan yang semakin ketat.

Fakta #1 tidak bisa mengungkapkan emosi -> Alexithymia

Autisme dewasa, layaknya anak-anak, akan mendapat risiko pengenalan emosi yang minimum seperti marah, senang, maupun sedih. Kondisi ini memang ada di tahun 2020an, beberapa jurnal luar negeri menyebut ini sebagai alexithymia. Cara penanganan dini terhadap hal ini adalah menggunakan PECS maupun gambar interaktif digital untuk mengetahui emosi (baik autisme verbal maupun nonverbal).

Mitos #2 tidak bisa mengungkapkan empati -> dirinya punya empati lebih

Sering kali masyarakat umum menganggap bahwa individu autisme akan sering ceroboh maupun tidak memenuhi etika sosial di masyarakat. Jika ditelisik lebih dalam dan lebih intim, individu autisme tidak selamanya tidak punya empati. Dengan konsultasi dengan warga sekitar maupun orang tua individu autisme, individu autisme akan lebih menghargai setiap kejadian yang ada layaknya orang kebanyakan.

Fakta #2 punya komorbiditas selain autisme -> cemas, depresi, hingga kejang

Tidak bisa dihindarkan bahwa autisme punya satu penyerta selain autisme sendiri. Beberapa dari individu autisme bisa saja satu kondisi yang menyertai seperti bersamaan dengan kejang/epilepsi, gangguan kecemasan, depresi hingga bipolar, perilaku menyakiti diri, dan lain-lain. Tentunya, penyerta komorbid ini tidak sembarangan hanya diagnosa sendiri, namun dibutuhkan supervisi dari pihak terkait terhadap individu autisme.

Mitos #3 tidak bisa berkelompok dalam keseharian -> bisa jika bertahap dan pengertian

Terkadang, dalam bekerja maupun bermasyarakat, individu autisme akan kesulitan dalam berkelompok maupun berdiskusi dalam jumlah besar. Hal ini bisa mengakibatkan individu autisme menjadi tidak berkontribusi lebih, imbasnya adalah dijauhi maupun disisihkan hingga tidak diikutkan dalam kegiatan sosial. Jika ada salah satu penggerak dalam kelompok bisa mengondisikan satu individu autisme dengan tepat sesuai dengan kemampuan maupun porsinya, individu autisme bisa saja berdaya guna lebih bagi orang lain yang ada di lingkaran kelompok. Tak lupa juga saling pengertian antar satu orang dengan yang lain tentu menjadi nilai tambah bagi tim maupun kelompok.

Fakta #3 sulit bercanda dan mengerti sarkas -> intepretasi literal

Merasa tidak sering berbohong? Itulah fakta bahwa individu autisme memang akan selalu tegas dan literal/apa adanya untuk berbicara kepada seseorang. Individu autisme akan sering tidak bercanda maupun serius seperti menggunakan bahasa sarkasme. Hal ini terjadi karena individu autisme cenderung lebih serius dalam setiap bahan bicaranya, sehingga dalam linguistik diartikan sebagai intepretasi literal.

Kesimpulan

Tentu setiap mitos dan fakta ini hanya sebagai edukasi dini. Tentu saja untuk mendiagnosa autisme tidak semudah dari tulisan ini saja. Maka dari itu, perlunya pihak profesional seperti psikolog maupun psikiater bisa mengetahui setiap diagnosa dari diri sendiri. Tentu saja, jangan diagnosa sendiri/self-diagnose dari setiap konten kesehatan:)